ETIKA BISNIS BAB III
RIZA FAUZI/3EA29/19214570
Model etika dalam bisnis, sumber
nilai etika dan faktor-faktor yang mempengaruhi etika manajerial
Immoral Manajemen
Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model
manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki
manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang
dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana
dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada
tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan
dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara
individu atau kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri
dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam
menjalankan bisnisnya.
Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam
manajemen adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan
tipe manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali etika atau
moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu Pertama, manajer
yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini
adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan
bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan
efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa
memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum.
Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat
bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak lain atau
tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum
yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam beraktivitas. Kedua,
tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen dengan pola ini sebenarnya
memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan, namun terkadang secara sengaja
melanggar etika tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka,
misalnya ingin melakukan efisiensi dan lain-lain. Namun manajer tipe ini
terkadang berpandangan bahwa etika hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita,
tidak untuk bisnis. Mereka percaya bahwa aktivitas bisnis berada di luar dari
pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas.
Widyahartono (1996:74) mengatakan prinsip bisnis amoral itu
menyatakan “bisnis adalah bisnis dan etika adalah etika, keduanya jangan
dicampur-adukkan”. Dasar pemikirannya sebagai berikut :
Bisnis adalah suatu bentuk persaingan yang mengutamakan dan
mendahulukan kepentingan ego-pribadi. Bisnis diperlakukan seperti permainan
(game) yang aturannya sangat berbeda dari aturan yang ada dalam kehidupan
sosial pada umumnya.
Orang yang mematuhi aturan moral dan ketanggapan sosial
(sosial responsiveness) akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan di
tengah persaingan ketat yang tak mengenal “values” yang menghasilkan segala
cara.
Kalau suatu praktek bisnis dibenarkan secara legal (karena
sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan karena law enforcement-nya lemah),
maka para penganut bisnis amoral itu justru menyatakan bahwa praktek bisnis itu
secara “moral mereka” (kriteria atau ukuran mereka) dapat dibenarkan.
Pembenaran diri itu merupakan sesuatu yang ”wajar’ menurut mereka. Bisnis
amoral dalam dirinya meskipun ditutup-tutupi tidak mau menjadi “agen moral”
karena mereka menganggap hal ini membuang-buang waktu, dan mematikan usaha
mencapai laba.
Moral Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau
moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen,
nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari
segala bentuk prilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe
ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa
meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang
termasuk dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya
jika bisnis yang dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang
ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi
hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus
mereka patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk
melebihi dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral
selalu melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan,
kebenaran, dan aturan-aturan emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala
keputusan bisnis yang diambilnya.
Hubungan Agama, Etika dan Nilai
Nilai agama atau Norma Agama adalah peraturan hidup yang
harus diterima manusia sebagai perintah-perintah, larangan larangan dan
ajaran-ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap
norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa “siksa” kelak
di akhirat.
Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya
berwujud: perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud perintah dan larangan
menurut isi norma tersebut? Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk
berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan
merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya
dipandang tidak baik.
Contoh norma agama ini diantaranya ialah:
1.
Beribadah sesuai dengan agama dan
keyakinan.
2.
Beramal saleh dan berbuat kebajikan.
3.
Mencegah, melarang, dan tidak
melakukan perbuatan maksiat, keji, dan mungkar.
Norma agama yang berasal dari Tuhan ini bertujuan untuk
menyempurnakan keadaan manusia agar menjadi baik,dan tidak menyukai adanya
kejahatan-kejahatan yang terjadi. Norma ini tidak di tujukan kepada sikap
lahir, tetapi pada sikap batin manusia yang di harapkan batin tersebut sesuai
dengan norma agama yang ia yakini sebagai sebuah kepercayaan. Norma agama ini
hanya memberikan kewajiban kepada manusia tanpa memberi hak kepada mereka,
mereka harus mentaati dan melaksanakan norma agama tersebut.
Maka hubungannya ialah sebagai berikut: dasar dari etika dan
etiket ialah filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk. Etika
berhubungan erat dengan norma seperti tata cara, kebiasaan, sopan santun, dan
adat. Norma ialah perwujudan dari nilai-nilai. Sehingga nilai dan norma sangat
penting untuk membentuk suatu etika. Dengan adanya nilai dan norma akan dapat
membuat lingkungan bertindak sesuai etika yang berlaku dalam lingkungan
masyarakat.
Leadership
Kita sering mendengar soal leadership. Namun, banyak
definisi yang diperoleh. Pemikiran tentang leadership prinsipnya sama, tetapi
bagaimana mewujdukan sehingga yang dipimpin melakukan itu yang mungkin terlihat
rada berbeda-beda.
Kepemimpinan atau leadership ada yang mengatakan kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerjasama sesuai dengan
rencana demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan
demikian kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen,
bahkan dapat dinyatakan, kepemimpinan adalah inti dari managemen.
Ada juga yang menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah
kemampuan memperoleh konsensus dan keikatan pada sasaran yang sama, melampaui
syarat. Namun, yang paling hakiki dari leadership adalah leader yang driven dan
passionate. Driven dalam artian berorientasi hasil dan mampu meyakinkan orang.
Passionate dalam artian mampu menggerakkan orang-orang sehingga mereka mampu
mencapai tujuan mereka.
Jika dia tidak mampu melakukan hal itu, dengan meninggalkan
aspek otoriter, meeka masih dikategorikan manajer. Dr. Roeslan Abdulgani: Seorang
pemimpin harus memiliki kelebihan dalam 3 hal dari orang-orang yang dipimpinnya
: – Kelebihan dalam bidang ratio: Pemimpin harus memiliki pengetahuan tentang
tujuan dan asas organisasi yang dipimpinnya. Memiliki pengetahuan tentang
cara-cara untuk menjalankan organisasi secara efisien.
Dan, dapat memberikan keyakinan kepada orang-orang yang
dipimpin ke arah berhasilnya tujuan. – Kelebihan dalam bidang rohaniah:
Pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang memancarkan keluhuran budi, ketinggian
moral, dan kesederhanaan watak. -Kelebihan dalam bidang lahiriah/jasmaniah:
Dengan kelebihan ketahanan jasmaniah ini seorang pemimpin akan mampu memberikan
contoh semangat dan prestasi kerja sehari-hari yang baik kepada orang-orang
yang dipimpin. Namun, terpenting, pemimpin tahu apa itu nilai-nilai
kepemimpinan.
Strategi dan performasi
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat
penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya
saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation)
yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari
perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan
didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan
secara konsisten dan konsekuen.
Karakter individu
Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan
yang muncul seputar individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini termasuk
pertanyaan tentang moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.
Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis yang
baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia,
dan prinsip-prinsip ini sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut
oleh masing-masing masyarakat.
Budaya organisasi
Konsep etika bisnis tercermin pada corporate culture (budaya
perusahaan). Menurut Kotler (1997) budaya perusahaan merupakan karakter suatu
perusahaan yang mencakup pengalaman, cerita, kepercayaan dan norma bersama yang
dianut oleh jajaran perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari cara karyawannya
berpakaian, berbicara, melayani tamu dan pengaturan kantor
Dasar pemikiran:
Suatu perusahaan akan memiliki hak hidup apabila perusahaan
tersebut memiliki pasar, dan dikelola oleh orang-orang yang ahli dan menyenangi
pekerjaannya. Agar perusahaan tersebut mampu melangsungkan hidupnya, ia
dihadapkan pada masalah :
1.
Intern,misalnya masalah perburuhan
2.
Ekstern,misalnya konsumen dan
persaingan
3.
Lingkungan, misalnya gangguan keamanan
Pada dasarnya ada 3 hal yang dapat membantu perusahaan
mengatasi masalah di atas
1.
Perusahaan tersebut harus dapat
menemukan sesuatu yang baru.
2.
Mampu menemukan yang terbaik dan
berbeda
3.
Tidak lebih jelek dari yang lain
Untuk mewujudkan hal tersebut perlu memiliki nilai-nilai
yang tercermin pada :
1.
Visi
2.
Misi
3.
Tujuan
4.
Budaya organisasi, pada budaya
organisasi terdapat unsur :
5.
Memecahkan masalah baik internal
maupun eksternal organisasi
6.
Budaya tersebut dapat ditafsirkan
secara mendalam
7.
Mempunyai persepsi yang sama
8.
Pemikiran yang sama
9.
Perasaan yang sama
sumber
: https://aangsurya.wordpress.com/2015/10/19/model-etika-dalam-bisnis-sumber-nilai-etika-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-etika-manajerial/
Komentar
Posting Komentar