PENULISAN 1
OPONI 3 CAGUB DAN CAWAGUB DKI JAKARTA
Saya membayangkan pertarungan di DKI akan jadi
pertarungan luar bisa terkait gagasan dan problem. Dari tiga paslon mana yang
punya gagasan cemerlang dan bisa yakinkan masyarakat, dia mampu menarik simpati
publik.
masyarakat DKI adalah pemilih yang
cerdas dan realistis sehingga masing-masing pasangan harus bisa memberikan
program-program yang bisa dipertanggungjawabkan di kemudian hari.
"Masyarakat DKI butuh program
realistis. Di DKI program harus bisa dipertanggungjawabkan. Beruntunglah mereka
yang memiliki KTP DKI karena standar tinggi sudah diterapkan oleh masyarakat
bagi calon pemimpinnya," jelasnya.
Sekadar diketahui, ada tiga pasangan
calon gubernur dan wakil gubernur yang mendaftar ke KPU DKI Jakarta. Mereka
adalah pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana
Murni, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
Network kembali menyurvei elektabilitas calon gubernur dan wakil gubernur DKI
Jakarta. LSI pun melakukan simulasi jika pilkada berlangsung dua putaran.
Dimulai dari jika
pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat
bertemu dengan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di putaran kedua, maka elektabilitas
Ahok akan tergerus.
·
MENURUT SURVE
"Ketika
Ahok-Djarot bertarung di putaran kedua dengan Anies-Sandi, survei menunjukkan
suara Ahok hanya 32,1 persen. Berbeda dengan suara Anies yang mencapai 38
persen," kata peneliti LSI Network, Adrian Sopa, di kantornya Jalan
Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (7/10/2016).
Sementara itu,
masyarakat yang masih merahasiakan dan belum menjawab ada 29,9 persen. Hal serupa
juga terjadi bila AHOK-JAROT berhadapan dengan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni di
putaran kedua.
"Pasangan
Ahok-Djarot mendapat 31,9 persen suara, sedangkan Agus-Sylvi mendapat 35,1
persen suara pemilih. Pemilih yang belum menentukan pilihan mencapai 33
persen," kata dia.
Berbagai faktor yang
menyebabkan Ahok kalah saat berhadapan dengan rivalnya adalah karena dia hanya
didukung oleh kalangan non-muslim dan kelompok Tionghoa. Selain itu, tak semua
orang Golkar memilih Ahok.
Sementara
Anies-Sandiaga mendapat dukungan pemilih muslim, etnis Jawa, Betawi dan Sunda.
Ditambah lagi sebagian orang Golkar yang tak loyal pada Ahok.
"Lalu didukung
oleh pemilih muda, berpendapatan bawah, pendidikan tinggi," jelas Adrian.
Faktor yang tak jauh
berbeda juga terjadi saat Ahok-Djarot kalah dengan pasangan Agus-Sylvi. Dari
survei yang dilakukan, Ahok-Djarot hanya unggul pada pemilih
kalangan non-muslim dan Tionghoa.
"Sementara, Agus
didukung pemilih muslim serta etnis Jawa, Betawi dan Sunda. Lalu didukung oleh
pemilih muda, berpendapatan bawah, pendidikan tinggi, dan partai pendukung plus
Golkar," tutur Adrian.
Survei ini dilakukan
pada 28 September-2 Oktober 2016 dengan metode multistage random sampling
dengan 400 responden. Sementara margin of error dari survei
ini 4,8 persen.
Komentar
Posting Komentar